Radarnews.co — Langkah menuju masa depan di mana kecerdasan buatan (AI) melampaui kemampuan manusia tampaknya semakin nyata. CEO Meta, Mark Zuckerberg, mengungkapkan bahwa sistem AI perusahaannya mulai menunjukkan tanda-tanda mampu memperbaiki diri tanpa intervensi manusia. Temuan ini, menurutnya, adalah awal menuju artificial superintelligence (ASI), sebuah bentuk AI tertinggi yang berpotensi mengubah jalannya sejarah umat manusia.
Pernyataan tersebut disampaikan Zuckerberg dalam makalah kebijakan yang dipublikasikan di situs resmi Meta pada 30 Juli 2025.
“Dalam beberapa bulan terakhir, kami mulai melihat kilasan kemampuan sistem AI kami untuk memperbaiki diri. Perbaikan ini masih lambat, tetapi tak terbantahkan,” tulisnya.
Bagi para peneliti AI, perkembangan kecerdasan buatan umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan:
- Artificial Narrow Intelligence (ANI) – AI dengan kemampuan luar biasa di satu bidang spesifik, seperti memprediksi struktur protein, tetapi tanpa fleksibilitas untuk beradaptasi di bidang lain.
- Artificial General Intelligence (AGI) – AI yang dapat memahami, belajar, dan beradaptasi layaknya otak manusia, memiliki pemahaman lintas disiplin.
- Artificial Superintelligence (ASI) – AI yang melampaui kapasitas kognitif manusia, mampu memperbaiki dirinya sendiri secara eksponensial, memicu apa yang disebut para ilmuwan sebagai intelligence explosion.
ASI berada pada puncak piramida ini, yakni tahap di mana teknologi dapat berkembang di luar batas pemikiran manusia dan memunculkan terobosan yang sebelumnya tak terbayangkan. Para pakar menyebut momen tercapainya AGI sebagai singularitas teknologi, titik kritis yang dapat mengubah peradaban secara drastis.
Bukan Fenomena Baru

Pengamatan Zuckerberg soal AI yang mulai “belajar sendiri” bukanlah yang pertama kali. Pada Oktober 2024, tim peneliti dari University of California, Santa Barbara mempublikasikan riset di basis data preprint arXiv mengenai konsep AI yang mampu memperbaiki diri.
Riset tersebut menguji kerangka kerja berbasis Gödel Machine, perangkat teoretis yang dapat menulis ulang kode dan instruksinya sendiri, asalkan perubahan tersebut dapat dibuktikan secara formal membawa keuntungan. Dalam eksperimen, Gödel Agent yang mereka kembangkan menunjukkan kemampuan memperbaiki kinerja dalam tugas-tugas kompleks seperti pemrograman, sains, matematika, dan penalaran.
Berbeda dengan kebanyakan model AI yang tidak diizinkan memodifikasi kode intinya, Gödel Agent memiliki akses penuh ke basis kode dan alat untuk mengembangkan pembaruan. Hasilnya, AI ini secara konsisten mengungguli agen buatan manusia dalam parameter yang sama.
Meski optimis, Zuckerberg menegaskan bahwa Meta tidak akan serta-merta merilis semua sistem AI canggihnya ke publik. Keputusan ini menandai pergeseran dari strategi open source total yang sebelumnya menjadi ciri Meta.
“Saya sangat optimistis superintelligence akan membantu umat manusia mempercepat kemajuan. Tapi yang lebih penting, ini bisa menjadi era baru pemberdayaan pribadi, di mana setiap orang punya agensi untuk memperbaiki dunia sesuai arah yang mereka pilih,” tulis Zuckerberg.
Ia menggambarkan visi di mana setiap orang memiliki “superintelligence pribadi” yang bisa membantu mencapai tujuan hidup, menciptakan karya, menjelajah pengalaman, mempererat hubungan sosial, hingga mengembangkan diri. Namun, ia juga menegaskan bahwa potensi sebesar ini harus diimbangi dengan kehati-hatian.
Risiko Super AI

Para pakar AI memperingatkan bahwa kemampuan AI untuk memperbaiki diri dapat memicu perkembangan yang sulit dikendalikan. Tanpa pengawasan ketat, sistem ini berpotensi membuat keputusan yang tak selaras dengan nilai dan kepentingan manusia.
Kontroversi seputar pembatasan distribusi AI juga mulai mengemuka. Pendukung keterbukaan teknologi berargumen bahwa membatasi akses dapat menciptakan monopoli pengetahuan, sedangkan pihak lain menilai pembatasan justru penting demi keamanan global.
Radarnews.co mencatat, klaim Zuckerberg ini bukan sekadar berita teknologi, tetapi sinyal perubahan paradigma. Jika benar AI Meta telah memulai langkah awal menuju ASI, kita sedang memasuki fase sejarah di mana batas antara kecerdasan manusia dan mesin semakin kabur.
Pertanyaan besar yang kini muncul: siapa yang akan memegang kendali ketika mesin mulai mengendalikan perkembangan dirinya sendiri? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah superintelligence menjadi berkah peradaban, atau justru awal dari tantangan terbesar umat manusia.*