Warga Wuhan Masih di Bayangi Ketakutan

RADARNEWS.CO, WUHAN – Pemerintah Kota Wuhan, Cina, mendapati 182 orang terpapar Covid-19 tanpa menunjukkan gejala. Penemuan ini muncul setelah pemerintah setempat melakukan tes dengan menggunakan asam nukleat terhadap 275.400 orang selama 8-15 April.

Dilaporakan Changjiang Daily, Komisi Kesehatan Kota Wuhan telah melakukan tes terhadap masyarakat yang ingin segera bekerja di ibu kota Provinsi Hubei itu yang paling banyak menyumbangkan kasus Covid-19 atau masyarakat yang ingin meninggalkan Wuhan untuk bekerja di berbagai kota lain di Cina.

”Saat ini di Wuhan terdapat 53 tempat tes asam nukleat dan 211 tempat pengumpulan sampel. Dengan kapasitas 40.000 tes, permintaan warga Wuhan yang ingin melakukan tes bisa dipenuhi,” kata seorang staf Komisi Kesehatan Kota Wuhan, Minggu (19/4).

Lembaga tersebut mewajibkan tiap orang tanpa gejala melakukan tes dan melaporkannya secara berkala serta bersedia menelusuri jejaknya dalam tempo 24 jam. Menurut pemerintah Cina, orang tanpa gejala harus menjalani karantina selama 14 hari untuk dilakukan observasi medis.

Hanya mereka yang tidak menunjukkan gejala dalam tempo 14 hari dan hasilnya negatif dalam dua kali tes boleh meninggalkan ruang observasi. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Hubei mengklasifikasi 76 kabupaten/kota yang termasuk berisiko rendah dari paparan Covid-19.

AKTIVITAS DI TENGAH KEKHAWATIRAN: Seorang pria yang mengenakan masker wajah datang untuk membeli sayuran di sebuah kios di Wuhan di Provinsi Hubei, kemarin (19/4). Setelah lockdown dibuka aktivitas kota itu pun terus menggeliat, meski tetap dibawah ancaman Corona. (FOTO: HECTOR RETAMAL/AFP)

Status risiko rendah dilekatkan pada daerah yang tidak ada kasus baru dalam 14 hari terakhir, sedangkan risiko menengah adalah daerah yang kurang dari 50 kasus dan risiko tinggi di atas 50 kasus. Wuhan termasuk daerah yang tadinya berisiko tinggi berubah menjadi berisiko rendah, lapor China Daily.

Sementara itu Asosiasi Islam China (CIA) juga memutuskan puasa Ramadan 1441 H yang akan berlangsung Jumat (24/4) memutuskan untuk menutup semua kegiatan peribadatan di masjid demi menghindari meluasnya wabah Covid-19. Puasa berlangsung sejak 23 Mei. Penetapan awal dan akhir Ramadan tersebut berdasarkan kalender Islam yang disesuaikan dengan kalender pendidikan setempat. Dalam pengumuman tersebut juga dicantumkan masih berlakunya penangguhan sementara kegiatan keagamaan kolektif.

Berbagai kegiatan masyarakat yang melibatkan orang banyak, seperti perayaan dan kegiatan keagamaan di beberapa provinsi dan kota setingkat provinsi di Cina ditangguhkan sejak 24 Januari atau sehari setelah Kota Wuhan ditutup total (lockdown), sebagai upaya pengendalian wabah Covid-19 yang bermula dari Ibu Kota Provinsi Hubei itu. ”Mohon dukungan dan kerja samanya untuk pencegahan dan pengendalian epidemi ini. Semua kegiatan keagamaan selama Ramadhan harap diselesaikan di rumah masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku,” demikian pernyataan CIA.

(FOTO: HECTOR RETAMAL/AFP)

Apa yang terjadi di Cina, juga merembet ke Korea Selatan. Dilaporkan delapan kasus, untuk pertama kalinya dalam dua bulan. ”Dari kasus-kasus baru itu, lima merupakan kasus dari luar negeri. Angka kematian akibat Covid-19 di negara itu naik menjadi 234,” terang Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC).

Ini adalah pertama kalinya sejak 18 Februari Korea Selatan melaporkan kenaikan kasus harian hanya satu digit. Penambahan angka tersebut membuat total kasus infeksi corona di Korsel menjadi 10.661. Korea Selatan sebagian besar telah berhasil mengendalikan wabah Covid-19 dan belum lama ini melaporkan kasus baru setiap hari hanya sekitar 20.

Presiden Moon Jae-in pada Minggu mengatakan kemajuan Korea Selatan memberi harapan bahwa Covid-19 dapat diatasi di bagian lain dunia. Awal tahun ini, Korea Selatan memiliki jumlah kasus Covid-19 terbesar di Asia di luar Cina, namun sejak itu posisi telah diambil alih oleh negara lain. ”Pemerintah akan mempersiapkan kehidupan sehari-hari baru dan tatanan dunia baru pasca-Covid dengan kekuatan terpadu warga,” kata Presiden Moon.

Kemarin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada Presiden Moon dan menyatakan penghargaan atas bantuan Korea Selatan dalam pengadaan alat tes COVID-19 untuk Amerika Serikat. Pemerintah Korsel pada Minggu diperkirakan akan mengumumkan apakah akan memperpanjang masa jaga jarak sosialnya yang telah diperpanjang sekali pada 4 April. (fin/ful)