Radarnews.co, PEKANBARU — Provinsi Riau kembali mencatat lonjakan signifikan jumlah titik panas atau hotspot pada Minggu (27/7) sore, menjadikannya wilayah dengan sebaran hotspot terbanyak di Pulau Sumatera. Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, total terdapat 16 titik panas terpantau di wilayah ini, melonjak tajam dibanding hanya empat titik pada pagi hari.
“Jumlah hotspot sore ini di Riau mencapai 16 titik. Ini tersebar di tujuh kabupaten berbeda,” ungkap Forecaster on Duty BMKG Stasiun Pekanbaru, Gita Dewi S, dalam keterangannya.
Menurut Gita, dua wilayah yang mencatat jumlah hotspot terbanyak adalah Kabupaten Pelalawan dan Bengkalis, masing-masing dengan empat titik panas. Disusul oleh Indragiri Hulu dan Kepulauan Meranti dengan dua titik, serta Kampar, Rokan Hilir, dan Siak masing-masing satu titik.
Dengan angka tersebut, Riau menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak di Sumatera pada hari yang sama. Total titik panas di Pulau Sumatera tercatat sebanyak 53 titik. Di bawah Riau, Jambi dan Bangka Belitung menyusul dengan masing-masing 11 titik, serta Aceh dengan 5 titik.
Peningkatan jumlah hotspot ini menjadi sinyal penting bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang memang menjadi ancaman rutin di wilayah Riau, terutama pada musim kemarau.
“Atmosfer saat ini cukup mendukung terjadinya karhutla, apalagi beberapa wilayah masih mengalami kekeringan permukaan. Jadi kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama,” jelas Gita.
Meskipun terjadi peningkatan titik panas, BMKG menyebut kondisi jarak pandang di beberapa wilayah di Riau masih tergolong aman. Jarak pandang di Kota Pekanbaru, Rengat, dan Pelalawan masih berada di angka 9 kilometer, sementara di wilayah Tambang mencapai 10 kilometer.
Namun demikian, Gita mengingatkan bahwa kondisi cuaca di wilayah Riau saat ini bersifat dinamis dan tidak seluruhnya kondusif. Meski hujan sempat turun dalam beberapa hari terakhir, distribusinya belum merata di seluruh wilayah.
“Curah hujan memang sempat turun, namun belum optimal membasahi semua area yang rentan terbakar. Oleh sebab itu, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,” katanya.
BMKG turut mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di daerah rawan karhutla, untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Selain melanggar hukum, tindakan tersebut dapat memperburuk kualitas udara dan memperluas area kebakaran.
“Dampak asap karhutla bukan hanya merugikan secara lingkungan dan ekonomi, tapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia,” tambah Gita.
Sebagai informasi, Riau termasuk salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam penanggulangan karhutla nasional. Setiap tahun, pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan berbagai lembaga berkoordinasi melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan. Termasuk patroli darat, pemadaman dini, serta teknologi modifikasi cuaca untuk mempercepat turunnya hujan.
Namun, upaya tersebut kerap terkendala oleh faktor cuaca ekstrem, sulitnya akses ke titik api, serta perilaku pembukaan lahan dengan membakar yang masih terjadi di beberapa wilayah.
“Kesadaran masyarakat sangat penting dalam menekan angka kebakaran. Tanpa kolaborasi dari semua pihak, upaya pencegahan akan sulit efektif,” tutup Gita.
Dengan meningkatnya intensitas hotspot saat ini, BMKG mengingatkan bahwa potensi ancaman kebakaran hutan dan lahan bisa meningkat sewaktu-waktu, terlebih jika cuaca panas dan angin kencang mendominasi beberapa pekan ke depan.*