Tahan Imbang Inter, Napoli Melaju ke Final

NAPLES – Revolusi memang membutuhkan pengorbanan. Seperti yang dilakukan Gennaro Gattuso saat merombak formasi Napoli dari 4-4-2 ala Carlo Ancelotti menjadi 4-3-3. Taktik yang diterapkan oleh Gattuso ini berjalan tak terlalu baik. Napoli kalah tiga kali dalam empat laga awal bersama mantan pelatih dan legenda AC Milan itu.

Meski begitu, Gattuso tetap menggunakan formasi 4-3-3 termasuk membawa II Parteinopei-julukan Napoli- ke final Coppa Italia, Minggu (14/6) dini hari WIB. Kali ini, hasil positif menghampiri Il Parteinopei kendati dalam laga yang dihelat di San Paolo tersebut berakhir imbang. Ya, saat skuad Antonio Conte mengejar kemenangan untuk membalikkan ketertinggalan 0-1 di leg pertama, mereka malah cuma main imbang 1-1.

Gol cepat Christian Eriksen di menit kedua, membuat Nerazzuri-julukan Inter Milan- mulai kehilangan banyak peluang yang didapat. Hingga gawangnya dibobol Dries Mertens di menit ke-41. Inter akhirnya tersingkir dengan agregat total 1-2. Inter memang unggul dalam penguasaan bola hingga 68 persen. Operan-operan Lautaro Martinez dkk seolah tenggelam oleh counterattack cepat dari Insigne dkk.

Meski kalah penguasaan bola, pemain Napoli lebih banyak menguasai duel udara (62 persen ) ketimbang Inter (32 persen). Lini pertahanan klub andalan Kota Naples memang sangat solid. Penguasaan bola di area pertahanan membuat Napoli menjadi mampu membungkam serangan Inter.

Namun peran Kiper Napoli David Ospina patut diacungi jempol saat menjaga jantung pertahanannya. Ia mampu menggagalkan sejumlah peluang Inter, Ospina juga menghasilkan umpan kunci untuk gol penting Napoli. Ada 17 tembakan yang berhasil ditepisnya.

Dilansir dari Football Italia, bek Napoli Kalidou Koulibaly mengatakan, motivasi dari Gennaro Gattuso membuat tim bermain dengan penuh percaya diri. “Dia (Gattuso) mengingatkan kami, bahwa kami adalah pemain hebat. Ini yang membuat kami kembali percaya diri, keluar dari tekanan, bermain baik, dan memenangi pertandingan,” ujarnya

Gattuso pun membeberkan pendekatan yang diterapkannya dalam melimitasi permainan Napoli. ’’Kami harus lebih bagus dalam meng-cover dan mengeblok setiap operan pemain Juve. Kami juga mampu mengatur kapan waktunya melakukan overlap,’’ jelas pelatih yang akhirnya meraih kemenangan pertamanya dalam laga restart usai pandemi itu.

Sementara Antonio Conte pun mengklaim, bahwa timnya masih belum mengikuti arahannya. The Godfather-julukan Conte- menganggap passing yang diberikan anak asuhnya terbilang tak terarah. Padahal operan pemain Inter lebih banyak (701 kali) ketimbang Napoli (344 kali).

“Kami bermain seperti menunggu momentum. Jadi lebih pasif sepanjang laga. Kami berpikir bisa bermain dengan tempo lambat dan melakukan lima sentuhan. Namun, (jarak) antar pemain berjauhan. Permainan yang sangat hambar,’’ ujar Conte yang menerapkan formasi 3-4-1-2 dalam laga kemarin kepada DAZN.

Eks Pelatih Chelsea tersebut menganggap timnya tidak layak tersingkir. Kendati demikian, ia memuji konsistensi David Ospina melawan gempuran anak asuhnya. “Kami seharusnya bisa lebih tajam dan klinis di depan gawang lawan, tetapi dia (David Ospina) malam ini seperti sosok yang ajaib, dia tampil luar biasa,” tandasnya. (fin/tgr)