Radarnews.co, KAMPAR – Setelah hujan merata sempat meredam potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kampar, Riau, bencana tersebut kini kembali terjadi hanya sehari setelah hujan berhenti. Dalam waktu dua hari terakhir, total sekitar 8,3 hektare lahan hangus terbakar.
Insiden pertama terjadi di Desa Pulau Birandang, Kecamatan Kampa, Rabu (30/7/2025), tepat setelah siang hari. Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Kabupaten Kampar, Adi Candra Lukita, mengatakan laporan diterima pukul 14.41 WIB.
“Lahan yang terbakar didominasi semak belukar dengan karakteristik tanah mineral gambut,” jelas Adi kepada media, Kamis (31/7). Ia menambahkan bahwa kebakaran tersebut mencakup kebakaran permukaan dan kebakaran bawah tanah (gambut), yang biasanya lebih sulit dipadamkan karena api bisa menjalar secara tersembunyi di bawah tanah.
Meski pemadaman dilakukan intensif, api baru berhasil dikendalikan pada malam hari. Tim gabungan penanggulangan bencana dikerahkan untuk memastikan tidak ada titik api tersisa.
Fenomena Cuaca Jadi Pemicu
Karhutla kembali muncul usai hujan berhenti pada Senin lalu. Dalam catatan cuaca, hujan sempat turun merata di Kampar pada Sabtu (26/7/2025), lalu hanya sebagian wilayah yang mendapat curah hujan pada hari Minggu dan Senin berikutnya. Namun hanya sehari tanpa hujan, dua titik Karhutla baru muncul di Kecamatan Salo, masing-masing di Desa Siabu dengan luas lahan terbakar sekitar 2 hektare, dan Desa Salo seluas 0,25 hektare, terjadi Selasa (29/7/2025).
Cuaca saat itu dilaporkan berawan dengan suhu udara relatif rendah, berkisar antara 26–27°C dan kelembapan udara mencapai 92%. Kondisi ini seharusnya cukup mendukung untuk mencegah kebakaran, namun struktur tanah gambut yang mudah mengering cepat memicu kembali potensi api.
Total Area Terbakar Capai 8,30 Hektare
Jika diakumulasi, luas lahan yang terbakar dalam dua hari terakhir di tiga lokasi berbeda mencapai sekitar 8,30 hektare. Pemerintah daerah mengingatkan warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena kondisi gambut masih rentan dan dapat mengakibatkan bencana lebih besar.
Tim pemantau Karhutla dan BMKG terus mengawasi kondisi lahan gambut di Kampar untuk mencegah kebakaran meluas lebih jauh, apalagi jika cuaca kering berlangsung beberapa hari ke depan.*