Rumah Sakit Rujukan Penuh

Ilustrasi. Foto: Shanghaiist.

JAKARTA – Kasus COVID-19 dalam tiga pekan terakhir sangat tinggi. Dampaknya rumah sakit (RS) rujukan di Ibu Kota Jakarta dan beberapa daerah penuh dan tak bisa menampung pasien.

Solusi untuk menekan dan memutus mata rantai penyebaran COVID-19 adalah dengan kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secarat ketat. Hal ini diungkapkan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DKI Jakarta Slamet Budiarto.

Dijelaskannya, selain RS rujukan COVID-19 penuh, jumlah tenaga medis juga makin berkurang dengan banyaknya yang gugur. Jumlah pasien tidak sebanding dengan jumlah tenaga medis. Jadi lonjakan kasus COVID-19 dikhawatirkan merugikan tenaga medis apabila PSBB tidak diperketat.

“Sekarang kan pasien full semua di RS rujukan, jadi kalau ini berlangsung lama, capek tenaga medis,” katanya dalam keterangannya, Minggu (6/12).

Dikatakannya, PSBB diperketat dinilai mampu menurunkan tingkat infeksi COVID-19 yang berpengaruh terhadap kerja tenaga medis.

“Apalagi kalau misal tenaga medis ketularan kan harus off, harus karantina. PSBB diperketat lagi, ini efektif menurunkan infeksi,” ucap Slamet.

Sementara, anggota Divisi Advokasi dan Hubungan Eksternal Tim Mitigasi PB IDI, Eka Mulyana mengatakan hingga saat ini sebanyak 342 petugas medis gugur dalam tugas akibat terinfeksi COVID-19. Dia merinci, sebanyak 192 dokter, 14 dokter gigi, dan 136 perawat telah gugur.

“Hingga 5 Desember 2020, sebanyak 342 petugas medis meninggal dunia,” ujarnya.

Untuk itu dia meminta agar masyarakat tertib menjalankan protokol kesehatan. Sebab COVID-19 bukanlah hoaks atau hasil konspirasi. COVID-19 adalah nyata dan telah memakan nyawa banyak orang dalam waktu yang cepat.

“Kami berharap jangan mengorbankan keselamatan orang lain dengan ketidakpercayaan tersebut. Tingginya lonjakan pasien Covid-19 serta angka kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan menjadi peringatan kepada kita semua untuk tetap waspada dan mematuhi protokol kesehatan (3M),” jelas dia.(gw/fin)