Rossi: Engine Freeze Jangan Dijadikan Alasan

rossi
Sang Legenda hidup MotoGP Valentino Rossi. (Instagram@valeyellow46)

VALENCIA – Sang Legenda hidup MotoGP Valentino Rossi tampil buruk selama musim 2020. Pemegang gelar juara sembilan kali ini hanya mampu menempati posisi 15 di klasemen pebalap.

Rider asal Italia itu, mengakui performanya di lintasan balap musim ini, dipengaruhi oleh sistem ‘engine freeze’ yang memberikan dampak kurang menyenangkan. Kritik itu dilontarkan lewat Motorsport.com, Senin (9/11).

“Mesinnya memang sudah tidak bisa diapa-apakan (hingga tahun 2021 mendatang), namun itu tidak seharusnya dijadikan alasan (buat kita untuk tidak bisa mencari solusi dari permasalahan Yamaha),” katanya dikutip Motosport.

Dia mengatakan Yamaha menjadi salah satu pabrikan yang tak diuntungkan dalam aturan ‘engine freeze’ yang diterapkan dalam kompetisi ini. Namun, masalah itu jangan dijadikan alasan Yamaha untuk tidak berkembang.

“Jadi, jika tak bisa mengutak-atik mesin demi memperbaiki performa, ada banyak hal lain yang bisa diperbaiki. Jika Yamaha bisa bekerja dengan baik dan menuju ke arah yang tepat, maka hasil kami juga bisa lebih baik,” ungkap pembalap berusia 41 tahun ini.

The Doctor juga menyatakan Yamaha tampaknya harus mulai mengubah cara kerja. Sebab pabrikan Garpu Tala ini sepertinya hanya garang pada awal musim, namun tertinggal di ujung musim. Sementara pabrikan lain mampu membawa perangkat baru yang lebih jitu.

“Sudah terjadi berkali-kali, kami mampu siap dan melaju cepat pada awal musim. Namun, kemudian pabrikan lain membawa banyak perangkat baru, butuh beberapa balapan untuk memperbaiki banyak hal, dan lalu justru lebih kuat pada akhir musim,” tuturnya.

Diyakini Rossi, buruknya penampilan Yamaha karena permasalahan mesin. Yamaha masih belum bisa memenuhi permintaan pebalapnya yang menuntut perbaikan top speed. Terlebih, Yamaha selalu tertinggal dari Honda dan Ducati.

“Saya sudah bilang berkali-kali, mesin kami adalah masalah terbesar, karena kami selalu paling lamban di trek lurus. Pada saat yang sama, kami punya masalah ketahanan mesin. Alhasil, kami banyak kendala dalam mengakhiri musim dengan pakai lima mesin. Sudah tak ada performa, tak ada ketahanan pula,” tutupnya.(ruf/gw/fin)