Publik Tagih Janji WHO

JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang menunggu hasil uji klinis terkait obat-obatan yang dimungkinkan efektif mengobati pasien Covid-19. Ini sejalan dengan desakan publik dari berbagai negara yang meminta WHO tak hanya sekadar mengeluarkan warning terhadap bahayanya wabah Virus Corona yang sudah mendera 217 negara.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan hampir 5.500 pasien di 39 negara sejauh ini telah dilibatkan dalam uji coba solidaritas. Ini pun merujuk pada riset klinis PBB yang sedang dilakukan. ”Kami mengharapkan hasil sementara dalam dua pekan ke depan. tunggu saja,” jelasnya, Minggu (5/7).

Uji coba Solidaritas dimulai dalam lima tahap dengan melihat pendekatan pengobatan potensial Covid-19 dari pengobatan standar, remdesivir, obat anti-malaria yang digembar-gemborkan oleh Presiden AS Donald Trump, hydroxychloroquine, obat HIV lopinavir/ritonavir, dan lopanivir/ritonavir yang dikombinasikan dengan interferon.

Baca Juga: WHO Umumkan Obat Covid-19

Awal bulan ini WHO menghentikan uji coba hydroxychloroquine pada pasien Covid-19 setelah penelitian menunjukkan tidak adanya manfaat dari obat tersebut, namun banyak pekerjaan yang masih diperlukan untuk melihat apakah obat itu cukup efektif sebagai obat pencegahan.

Kepala program kedaruratan WHO, Mike Ryan menambahkan tidak bijaksana untuk memprediksi kapan sebuah vaksin bisa siap melawan Covid-19, penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru dan telah menelan lebih dari setengah juta orang.

Sementara calon vaksin mungkin menunjukkan kemanjurannya pada akhir tahun, pertanyaannya adalah seberapa cepat vaksin itu dapat diproduksi secara massal, katanya kepada asosiasi jurnalis PBB ACANU di Jenewa.

Tidak ada vaksin yang terbukti melawan penyakit Covid-19 untuk saat ini, sementara 18 calon vaksin sedang diujikan pada manusia. Pejabat WHO mempertahankan respons mereka terhadap virus yang muncul di Cina tahun lalu, dengan mengatakan bahwa mereka telah diarahkan oleh ilmu pengetahuan ketika virus itu berkembang. Ryan menuturkan apa yang ia sesalkan adalah bahwa rantai pasokan global putus, sehingga membuat para staf medis tidak memiliki alat pelindung.

Baca Juga: WHO Utus Tim ke Cina

”Saya menyesal bahwa tidak ada akses yang merata untuk mendapatkan alat Covid. Saya menyesal bahwa sejumlah negara memiliki lebih banyak dari yang lain, dan saya menyesal bahwa petugas lini terdepan meninggal karena,” terangnya.

Ia mendesak negara-negara agar terus mengidentifikasi klaster baru Covid-19, melacak orang yang terinfeksi dan mengisolasi mereka untuk membantu memutus rantai penularan. ”Mereka yang duduk di sekitar meja kopi dan berspekulasi serta berbicara (tentang penularan) tidak mencapai apa-apa. Mereka yang mengejar virus mencapai sesuatu,” katanya.(fin/ful)