Penanganan Virus Covid-19 Dinilai Cukup Berhasil

covid-19
Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito. (Instagram@wikuadisasmito)

JAKARTA – Sebagian besar kabupaten/kota sejauh ini dinilai cukup berhasil dalam penanganan virus Covid-19. Sebanyak 408 dari 514 kabupaten/kota memiliki kasus aktif antara 0 – 100 kasus.

“Sebagian besar kabupaten/kota memiliki kasus aktif di bawah 100. Artinya penanganan ini bisa dikendalikan,” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito di Jakarta, Minggu (1/11).

Untuk perkembangan kasus aktif, sebanyak 94 kabupaten/kota lainnya memiliki kasus aktif antara 101-1.000 kasus. Sebesar 2,3 persen atau 12 kabupaten/kota memiliki kasus aktif di atas 1.000 kasus. “Jumlah kabupaten/kota yang memiliki kasus aktif di atas 1.000 kasus itu yang perlu diwaspadai,” imbuhnya.

Pada kasus meninggal, 325 kabupaten/kota memiliki kematian 0-100 kasus. Kemudian 163 kabupaten/kota mencatatkan kasus kematian antara 11-100 kasus. Selanjutnya 26 kabupaten/kota terdapat lebih dari 100 kasus kematian.

“Ini artinya lebih dari setengah wilayah di Indonesia memiliki angka kematian yang sedikit. Namun perlu diingat, satu kematian saja terbilang nyawa. Karena itu mematuhi protokol kesehatan adalah kewajiban. Dimana pun kita berada selalu terapkan 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak),” tegas Wiku.

Untuk kasus sembuh, 276 kabupaten/kota memiliki kesembuhan di atas 75 persen. Bahkan ada kabupaten/kota yang memiliki tingkat kesembuhan mencapai 100 persen. Selain itu, 193 kabupaten/kota memiliki kesembuhan antara 25-75 persen. “Satgas tentu sangat prihatin. Ternyata masih ada 13 kabupaten/kota yang masih memiliki kesembuhan sangat rendah. Yakni kurang dari 25 persen,” paparnya.

Secara umum, lanjutnya, kabupaten/kota dengan jumlah kasus aktif dan kasus meninggal terbanyak adalah kabupaten/kota besar dan padat penduduk. Untuk kasus sembuh, justru kabupaten/kota yang berada di Indonesia paling timur dan paling barat memiliki tingkat kesembuhan rendah. “Hal ini dikarenakan belum masif-nya testing, atau pemeriksaan laboratorium, serta fasilitas pelayanan kesehatan yang belum maksimal untuk penderita pasien COVID-19,” ucap Wiku.(rh/fin)