Pandemi Covid-19 Picu Meningkatnya Jumlah Pengguna Narkotika

Indonesia Covid-19
Ilustrasi. Foto: Pixabay

JAKARTA – Pandemi COVID-19 berdampak meningkatnya jumlah pengguna narkotika. Stres sebagai salah satu pemicu seseorang menggunakan narkotika.

Psikiater Rumah Sakit Melinda 2 Teddy Hidayat mengatakan pandemi COVID-19 selama beberapa dapat meningkatkan stres seseorang. Pada akhirnya, mereka yang stres menggunakan cara yang sala h untuk menyelesaikannya dengan menggunakan narkotika.

“Kondisi ini bisa terjadi karena ada stres, misalnya kena PHK, penghasilan menurun, tidak bisa berdagang akibat Covid-19,” katanya, Rabu (24/6).

Akibatnya, banyak individu yang merasa tertekan dan mencari jalan keluar dengan cara yang salah. Yaitu mengonsumsi alkohol, bahkan narkotika.

“Jadi kalau dibilang kasus narkoba naik masuk akal sih karena situasi pandemi ini,” ujarnya.

Ia mengatakan sebelum pandemi COVID-19, sudah banyak masyarakat yang mengonsumsi narkoba. Namun, pengguna narkoba semakin bertambah ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia.

Selain pandemi COVID-19, tingkat stres masyarakat naik saat tertimpa bencana alam atau wabah penyakit.

“Jadi sudah rumusnya seperti itu,” ujarnya.

Dia menilai, mereka yang stres lalu mengonsumsi narkoba hanya memecahkan masalah dengan cara destruktif. Padahal hal tersebut hanya bersifat sementara dan berpotensi besar menimbulkan masalah baru, yaitu ketergantungan.

“Misalnya dia minum alkohol, sementara waktu dia memang lupa dengan masalahnya, namun setelah alkoholnya habis stresnya kembali lagi,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, Teddy menyarankan agar individu yang mulai merasakan tekanan dan stres sebaiknya memecahkan masalah dengan cara konstruktif atau melakukan hal-hal positif.

“Sebagai contoh melakukan kegiatan yang menyenangkan, olahraga, makanan bergizi, menjalin komunikasi dengan teman dan sebagainya,” katanya.

Meningkatnya jumlah pengguna berbanding lurus dengan tingginya angka penyelundupan narkotika. Terutama dari jalur laut.

Pengamat pertahanan Universitas Paramadina Anton Aliabbas tren penyelundupan narkotika dari luar negeri melalui jalur laut sejak pandemi COVID-19 meningkat.

“Di era pandemi terlihat ada tren menggunakan jalur laut. Memanfaatkan lalu lintas kargo internasional, hanya dua persen pengawasan efektif dilakukan,” ujarnya.

Dia yakin tren penyelundupan narkoba kini mengalami pergeseran dari jalur udara ke jalur laut.

“Ketika jalur udara ditutup maka pemanfaatan jalur laut meningkat,” ucap dia.

Diingatkannya, sekalipun ada resesi ekonomi akibat pandemi COVID-19, tidak serta merta perdagangan narkoba menurun. Justru bisnis ilegal ini dipandangnya memiliki adaptasi yang baik, termasuk pola maupun model transportasi penyelundupan.

“Yang harus menjadi ‘highlight’, merosotnya ekonomi, melonjaknya angka pengangguran dan peluang berkurangnya penindakan karena anggaran yang terpotong membuka peluang bagi sindikat narkoba. Di sisi lain, dengan potret pengangguran tinggi, berdampak pada kriminalitas umum dan membuka peluang mereka yang putus asa akhirnya mengedarkan narkoba,” katanya.

Untuk meminimalisir penyelundupan narkotika dari luar negeri, Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy, Phil Shiskha Prabawaningtyas meminta agar pemerintah memaksimalkan keberadaan Atase Polri.

“Jalur baru (penyelundupan narkoba) semakin meningkat. Penting membuat ‘early warning system’ dalam fungsi KBRI di negara-negara yang terindikasi (produsen narkoba). ‘Early warning system’ dengan fungsi interpol dan atase polisi,” katanya.

“Early warning system” dalam mengatasi penyelundupan narkoba dapat dilakukan dengan memaksimalkan keberadaan atase polisi di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia).

Wanita yang biasa disapa Icha itu menekankan pentingnya keberadaan atase polisi di perwakilan negara di luar negeri sehingga patut menjadi kajian atau pembahasan mendalam.

Selain menjadi sistem deteksi dini, atase polisi juga dapat membantu pemulihan hubungan bilateral Indonesia dengan negara lain.

“Misalnya, penerapan hukuman mati terpidana narkoba yang mengakibatkan sempat renggangnya hubungan dengan Brazil dan Australia beberapa waktu lalu,” katanya.

Sebelumnya Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana mengungkapkan adanya kenaikan jumlah tindak pidana narkoba selama terjadinya pandemi COVID-19.

“Jadi kalau kita bandingkan sebelum dan saat pandemi. Sebelum (pandemi) pun tinggi, tapi saat pandemi faktanya lebih tinggi,” kata Irjen Nana, Jumat (12/6).

Dia mengatakan para pengedar narkoba ini berupaya memanfaatkan situasi pandemi dengan harapan petugas mengendorkan pengawasan terhadap aksi jaringan narkoba.

“Mereka memanfaatkan waktu saat pandemi Covid-19. Mereka perkirakan polisi atau petugas yang lain sedang fokus ke penanganan COVID-19 dan mereka memanfaatkan ini,” kata Nana.

Meski belum membeberkan data maupun persentase peningkatan tindak pidana narkoba di masa pandemi, Nana mengatakan jajaran penyidik Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya dan jajaran Polres di wilayah hukumnya mencatat adanya kenaikan jumlah penyalahgunaan narkoba di masa pandemi.

“Ini mungkin masyarakat kita saat ini saat pandemi ini, juga ada rasa jenuh atau hal lain, secara psikologi mereka itu kemudian berhadapan dengan kevakuman yang ada, mereka kemudian mencoba hal-hal yang baru dengan narkoba,” ujarnya.(gw/fin)