Pandemi Covid-19, Kekerasan Terhadap Anak Meningkat

kekerasan anak
Ilustrasi, Pandemi COVID-19 berdampak pada meningkatnya kekerasan pada anak. (Ist)

JAKARTA – Pandemi COVID-19 berdampak pada meningkatnya kekerasan pada anak. Penyebabnya, kondisi ekonomi yang membuat emosi orangtua tak terkendali.

Dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University Yulina Eva Riany mengatakan selama pandemi COVID-19, kekerasan terhadap anak meningkat. Penyebabnya, karena rasa bosan, jenuh dan penat akibat aktivitas yang lebih banyak harus dilakukan di rumah dan menurunnya pendapatan ekonomi.

“Penelitian menunjukkan mayoritas tindak kekerasan terhadap anak terjadi pada keluarga dengan kondisi sosial ekonomi yang rendah. Tekanan sosial ekonomi seperti terlilit utang dan kemampuan ekonomi yang rendah menjadi penyebab stres pada orangtua,” katanya dalam siaran persnya, Senin (19/10).

Dijelaskannya, perubahan kondisi finansial keluarga akibat pandemi COVID-19 memperburuk tekanan psikologi pada keluarg. Akibatnya berdampak fatal pada anak yang menjadi korban ledakan emosi orangtua. Sebab anak merupakan pihak terdekat dan kecil kemungkinannya melakukan perlawanan.

Luapan amarah sebagai solusi masalah sering ditumpahkan orangtua terhadap anak. Apalagi ditambah dengan pengetahuan terhadap strategi pengasuhan anak yang rendah dan kebiasaan memberlakukan hukuman fisik.

“Contohnya kasus pembunuhan yang dilakukan seorang ibu terhadap anak perempuan kandungnya yang masih kelas I SD di Tangerang. Ibu itu tega menganiaya anak kandungnya sendiri yang masih enam tahun karena jengkel sang anak tidak mampu menguasai pembelajaran daring. Tentu hal itu merupakan fenomena gunung es yang terjadi di masyarakat,” tuturnya.

Data dari berbagai pihak menunjukkan kekerasan anak di beberapa daerah meningkat tajam selama pandemi COVID-19. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Nusa Tenggara Barat menunjukkan kekerasan terhadap anak di provinsi tersebut meningkat 12 persen selama pandemi COVID-19.(gw/fin)