Nyatakan Perang Lawan FPI Bisa Picu Konflik Agama Seperti di Ambon

Jansen Sitindaon (Twitter)

JAKARTA- Politikus Partai Demokrat, Jansen Sitindaon meminta aparat kepolisian Polda Sumatera Utara (Sumut) untuk secepatnya menyelesaikan persoalan antara Front Pembela Islam (FPI) dan Komite Independen Batak (KIB).

Seperti diberitakan, KIB menyerukan pengusiran terhadap FPI dan nyatakan perang terhadap mereka. Hal ini setelah FPI diduga melakukan persekusi terhadap salah seorang wanita yang sedang menjual miras jenis tuak di Batang Kuis Deki Serdang.

Jansen meminta Polda Sumut agar bertindak untuk menghindari konflik agama. “Saya hanya meminta kepada @poldasumut tegakkan saja hukum setegak-tegaknya dipersoalan ini agar muaranya tidak kemana-mana.” Tulis Jansen dikutip akun twitternya, Jumat (1/5).

Jangan lagi terulang krn masalah kecil. Supir angkot ribut dengan pemuda, konflik Ambon meluas jadi antar kelompok agama, meledak kerusuhan. Mari kita percayakan pada hukum.” ujar Jansen

Sebagai orang batak, Jansen mengaku marah melihat tindakan persekusi FPI. Tetapi baginya, persoalan itu harus diselesaikan secara hukum agar tidak merambat pada konflik agama.

Mari kita arahkan persoalan ini diselesaikan hukum. Di Indonesia yang komunal harus kita hindari benturkan agama dengan agama, suku dgn suku. Poso, Ambon, Sampit jadu bukti hal begini jadi penyebab “tabrakan maut” yang rugikan semua.” Kat Jansen.

Dia meminta agara publik tidak menjadi provokasi dan memperkeruh suasana.

Cukuplah. Jangan lagi kita “panas-panasi” persoalan di Batang Kuis ini. Semua pihak saling berdamai menurut saya adl jalan terbaik. Toh semuanya sama² saudara yg hidup di Sumut. Jikapun ada yg masih tidak puas biarlah hukum menjadi ujungnya. Bukan mengajak rusuh atau konflik sosial.” Pungkas dia.

Sebelumnya, video sekelompok orang dari FPI mendatangi kedai tuak milik Lamria Maang di Batang Kuis viral di media sosial.

Dalam video itu terlihat Lamria Maang mempertahankan kedai tuak miliknya saat diminta tutup oleh sekelompok orang. Dia mengatakan warung miliknya tetap buka untuk mencari makan sehari-hari.

“Pak, saya makan dari mana. Saya warga sini loh. Saya makan dari mana. Bapak ini bagaimana? Bisa Bapak kasih aku makan? Pak, bisa Bapak kasih aku makan?” katanya.

Wanita itu mengatakan telah menutupi warung miliknya agar tidak terlihat dari bagian luar. Ia menolak barang-barang miliknya yang akan diambil.

“Kan itu ditutup Pak. Kan katanya harus ditutup, saya tutup. Jangan bawa barang-barang itu, bisa kalian kasih saya makan?” katanya. (dal/fin).

Read more