Mahfud MD Mengutuk Aksi Pembantaian di Sigi

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD. (Instagram@mohmahfudmd)

JAKARTA – Pemerintah mengutuk aksi pembantaian terhadap empat orang dalam satu keluarga di Sigi, Sulawesi Tengah. Aparat keamanan diminta memburu pelaku dan menindak tegas sesuai ketentuan yang berlaku.

Menteri Koordinator Politik hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengutuk keras aksi sadis di Sigi. Pemerintah menyatakan duka cita yang mendalam kepada para korban dan keluarganya atas kejadian tersebut.

“Pemerintah akan melakukan tindakan tegas dan memburu pelaku melalui Tim atau Satgas Operasi Tinombala terhadap para pelaku kekejian dan kebengisan terhadap suatu keluarga yang menyebabkan terbunuhnya 4 orang di Sigi. Tentu pemerintah mengutuk keras kepada pelakunya dan menyatakan duka yang mendalam kepada korban dan keluarganya,” ujar Menko Polhukam Mahfud MD dalam keterangan persnya, Minggu (29/11).

Menurutnya, pemerintah sesuai perintah Presiden Joko Widodo telah melakukan langkah-langkah pengejaran. Bahkan pihak keamanan telah mengepung tempat-tempat yang dicurigai memiliki keterkaitan dengan para pelaku.

“Pemerintah juga sudah melakukan langkah-langkah untuk melakukan pengejaran, tadi tim Tinombala sudah menyampaikan tahap-tahap yang dilakukan untuk mengejar pelaku. Tim melakukan isolasi serta pengepungan terhadap tempat yang dicurigai ada kaitan dengan para pelaku,” ungkapnya.

Adapun pelaku pembantaian tersebut, menurut pemerintah adalah sisa-sia kelompok Santoso atau biasa dikenal Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

“Memang pelakunya adalah Mujahidin Indonesia Timur. Kelompok Mujahidin Indonesia Timur ini adalah sisa-sisa kelompok Santoso. Kini masih tersisa beberapa orang lagi, dan operasi Tinombala, atau Satgas Tinombala sedang mengejar sekarang,” katanya.

Atas peristiwa ini, pemerintah berharap, para pimpinan umat beragama khususnya di Sulawesi Tengah, tetap jalin silaturrahim. Agar masyarakt tidak terprovokasi isu-isu sara. Padahal sejatinya agama apapun hadir untuk membangun perdamaian.

“Diharapakan oleh Pemerintah kepada seluruh pimpinan umat beragama di Sulawesi Tengah terutama, terus melakukan silaturahim, untuk tidak terprovokasi oleh isu-isu sara. Karena sebenarnya yang terjadi bukan di sebuah gereja, tetapi memang di sebuah tempat yang selama ini secara tidak rutin menjadi tempat pelayanan umat. Tetapi pelakunya memang Mujahidin Indonesia Timur. Demikian sikap pemerintah, nanti setiap perkembangannya akan diinformasikan,” pungkasnya.(gw/fin)