La Nina Mengancam, Waspada Klaster Pengungsian

la nina
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. (Instagram@luhut.pandjaitan)

JAKARTA – Fenomena La Nina mengancam seluruh wilayah Indonesia. Puncaknya akan terjadi pada desember 2020-Januari 2021. Potensi bencana banjir dan longsor sangat tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan potensi bencana akibat La Nina sangat tinggi. Akibatnya banyak warga yang akan tinggal di pengungsian. Karenanya, pemerintah mulai mengantisipasi potensi adanya klaster atau penyebaran penularan COVID-19 melalui pengungsian.

“Contoh Oktober banyak hujan deras dan juga longsor, mungkin tsunami, gempa, berpengaruh COVID-19 karena pengungsian,” katanya usai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Jokowi dari Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (13/10).

Luhut mengatakan berdasarkan data dari Badan Meteorolodi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dalam enam bulan ke depan diperkirakan akan terjadi fenomena La Nina di Pasifik. fenomena ini berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah Indonesia.

“Hujan curahnya naik sampai 40 persen dan itu membuat kita antisipasi, bisa saja ada multibencana, misalnya La Nina, hujan deras, gempa, tsunami,” katanya.

untuk itu, Presiden telah mengingatkan jajarannya agar mengacu pada laporan BMKG sebagai landasan dalam bekerja.

“Kita akan bisa mengurangi kemungkinan-kemungkinan keterlambatan kalau terjadi peristiwa semacam itu,” kata Luhut.

Maka untuk mengantisipasi bencana hingga dampaknya, termasuk klaster COVID-19 dari pengungsian, pemerintah berharap masyarakat turut membantu.

“Jangan sampai tidak menuruti warning yang sudah disebarluaskan BMKG. Saya usulkan dalam rakor-rakor kami penguatan BMKG agar lebih paten, teknologi lebih bagus, pemda warning, bangun satu sistem early warning. Begitu juga yang lain-lain,” katanya.(gw/fin)