KPU Petakan Empat Tahapan yang Rawan Penularan Corona

Pilkada

JAKARTA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) memetakan empat tahapan yang rawan penularan virus Corona (COVID-19). Untuk itu, KPU akan melakukan pengawasan ketat dalam hal protokol kesehatan.

Komisioner KPU Ilham Saputra mengatakan ada empat tahapan dalam Pilkada Serentak 2020 yang rawan terjadinya penularan COVID-19. Karenanya KPU bakal ketat mengawasi penerapan protokol kesehatan.

“Ada 4 tahapan krusial yang kemudian kita berikhtiar meminimalisir paparan COVID-19 karena kegiatan tersebut sangat berpotensi menularkan atau terpapar,” katanya dalam diskusi daring bertema ‘Pilkada 20202: Kontestasi di Masa Pandemi’, Minggu (28/6).

Baca Juga: KPU Tidak Siap e-Voting Pada Pilkada 2020

Dijelaskan Ilham, empat tahapan tersebut pertama proses verifikasi dukungan calon perseorangan. Tahapan ini sangat tinggi berpotensi terjadinya penularan COVID-19, karena prosesnya banyak dilakukan dengan tatap muka. Tahapan ini berlangsung mulai 22 Juni hingga 23 Agustus.

“Nanti kita juga akan umumkan berapa banyak yang tidak memenuhi syarat, berapa banyak yang memenuhi syarat kemudian bisa dipenuhi lagi, dan lain sebagainya,” kata dia.

Tahapan kedua ialah pemutakhiran data pemilih. Ia mengatakan, saat ini pihaknya baru mulai pembentukan Petugas Pemutakhiran Data Pemilih PPDP Pemilu.

“Tentu saja ini menjadi tahapan yang krusial ketika kita melakukan Coklit (Pencocokan dan Penelitian), karena dilakukan secara door to door,” ucap dia.

Selanjutnya tahapan ketiga, adalah proses kampanye. Saat ini, pihaknya sudah menyiapkan peraturan KPU tentang penyelenggaraan tahapan pilkada 2020 di masa COVID-19.

Baca Juga: KPU Jangan Hanya Minta Anggaran

“Kami beberapa kali ketemu dengan Kemenkum HAM di harmonisasi. Salah satunya kita memperbolehkan kampanye jika di ruangan yang nanti kehadirannya harus setengah dari ruangan tersebut. Harus menggunakan protokol COVID-19 yang ketat,” sebutnya.

Terakhir, tahapan pemungutan suara. Ilham mengaku KPU bakal menerapkan protokol kesehatan yang ketat kepada saat proses pemungutan suara.

“Misalnya aja nanti pemilih yang ditembak dengan thermo gun, kemudian dia suhunya lebih dari 38 derajat. Maka kami akan buat TPS khusus di setiap TPS untuk mereka memilih dan kita perintahkan mereka segera kembali ke tempat atau kita menyediakan sarung tangan plastik untuk setiap pemilih dan kemudian ketika mereka memegang paku tidak berpotensi terpapar COVID-19, secara berkala paku kita semprot dengan desinfektan agar kemudian terus menerus steril. Kemudian tintanya tinta tetes,” jelasnya.(gw/fin)