Kondisi Tubuh Pengaruhi Respons COVID

Ilustrasi pasien corona. Foto: Shanghaiist.

JAKARTA – Kondisi tubuh seseorang saat terpapar COVID-19 sangat memengaruhi keluhan dan respons penyakit terhadap tubuh. Gejala yang ditimbulkan juga berbeda-beda. Bisa ringan, sedang, hingga berat.

“Jika memiliki daya tahan tubuh cukup baik, gejala yang akan muncul jika terpapar COVID-19 cenderung ringan. Hingga tidak ada gejala sama sekali. Tetapi, pada seseorang yang daya tahan tubuhnya lemah atau telah berusia lanjut, atau juga memiliki penyakit komorbid, paparan COVID-19 cenderung menimbulkan gejala yang lebih berat,” kata dokter paru Rumah Sakit (RS) Persahabatan, Andika Chandra Putra di Jakarta, Senin (5/10).

Menurutnya, ada 7 organ penting dalam tubuh manusia. Di antaranya paru, jantung, ginjal, hati, dan otak. Ketika salah satu organ itu diserang, bisa menyebabkan keluhan berat.

Karena itu, pada seseorang yang telah memiliki penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes dan obesitas, gejala yang muncul akibat paparan COVID-19 akan cenderung lebih berat dibandingkan yang tidak memiliki penyakit penyerta. “Kalau usia di atas 45 tahun, dan punya penyakit penyerta, jika terkena COVID-19 kebanyakan ada keluhan. Dan keluhannya bisa berat,” ucap Andika.

Gejala ringan, sedang hingga berat tersebut, lanjutnya, dapat dialami sesuai dengan kondisi tubuh merespons paparan COVID-19 dalam tiga fase. Yaitu pada fase awal infeksi, fase pulmonary atau fase penyakit memasuki saluran paru-paru dan fase inflamasi.

Pada fase awal infeksi, keluhan yang dialami penderita biasanya berupa pilek, sakit tenggorokan hingga pegal-pegal. Jika pada fase tersebut daya tahan tubuh tidak kuat menerima paparan, virus akan memasuki fase berikutnya. Yakni fase pulmomary atau fase paru.

Pada fase paru tersebut, virus telah masuk ke saluran paru-paru dapat menyebabkan pasien mengalami pneumonia. Mulai batuk-batuk hingga sesak napas.

Berikutnya adalah fase inflamasi atau peradangan. Jika daya tahan tubuh penderita tidak dapat menahan serangan, pasien kemungkinan akan mengalami inflamasi secara sistemik. “Baru terjadi badai sitokin. Yaitu reaksi berlebih dari sistem kekebalan tubuh, gangguan injury pada liver, ginjal, dan pada jantung,” ucapnya.

Andika juga mengingatkan masyarakat agar selalu menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Menurutnya, hal ini penting untuk terus dilakukan. “Disiplin protokol kesehatan dengan 3M adalah cara efektif untuk mencegah penularan,” pungkas Andika.(rh/fin)