Kasus Covid-19 Menanjak Tajam, Masyarakat Diminta Makin Waspada

virus corona

JAKARTA – Kasus penambahan COVID-19 di Indonesia dalam 24 jam terakhir menanjak tajam. Terjadi penambahan sebanyak 3.622 kasus baru. Karenanya masyarakat diminta untuk mewaspadai tempat-tempat yang rawan penularan dan disiplin menggunakan masker.

Anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan kasus COVID-19, Dewi Nur Aisyah meminta masyarakat untuk semakin waspada terhadap penyebaran. Terutama di tempat-tempat yang sangat rawan menjadi lokasi penularan dan penyebaran.

“Ada 20 tempat yang harus diwaspadai masyarakat selama pandemi COVID-19. Saat berada di tempat ini, masyarakat harus menerapkan protokol kesehatan. Misalnya menggunakan masker, menjaga jarak aman, dan rutin mencuci tangan,” katanya, Kamis (3/9).

Disebutkannya, 20 tempat yang rawan terjadi penyebaran adalah kegiatan sosial, tahlilan, pengajian, pernikahan, ibadah, asrama, pesantren, panti asuhan dan pengungsian.

“Masyarakat perlu sekali hati hati. Hati-hatinya harus ekstra,” tegasnya.

Baca Juga : Ribuan Ton Limbah Medis Covid-19 Cemari Sungai

Tidak hanya itu, tempat-tempat yang harus diwaspadai lainnya adalah apartemen, kos-kosan, pemukiman padat, pasar dan perkantoran atau industri. Kemudian fasilitas kesehatan, transportasi umum, MRT, LRT dan KRL, komunitas olahraga, tempat wisata dan hiburan.

Kewaspadaan serta disiplin menerapkan protokol kesehatan sangat penting, mengingat positivity rate COVID-19 di Indonesia meningkat dalam tiga bulan terakhir.

Positivity rate merupakan persentase orang yang memiliki hasil tes positif COVID-19 dibandingkan jumlah orang yang dites.

“Ini menjadi bukti penularan di masyarakat terjadi semakin banyak, semakin tinggi,” ungkapnya.

Dijelaskannya positivity rate pada Juni 2020 berada di angka 11,71 persen. Namun, sebulan kemudian atau Juli 2020, positivity rate meningkat menjadi 14,29 persen. Dan terus meningkat pada Agustus 2020 yang menjadi 15,43 persen.

“Ini menunjukkan, positivity rate di Indonesia lima kali lipat dari target WHO (World Health Organization), yakni 5 persen,” katanya.(gw/fin)