Kasus ABK Terjun ke Laut Terkuak

Ilustrasi

JAKARTA – Jajaran Polri berhasil menangkap seorang tersangka pedagangan manusia dalam hal ini anak buah kapal (ABK). Tersangka merupakan orang yang diduga terlibat dalam kasus dua ABK yang terjun ke laut karena disiksa di atas kapal berbendera China.

Kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) terhadap dua ABK asal Indonesia yang lompat dari kapal ikan Fu Li Qing Yuan Yu 901 di wilayah perairan Pulau Karimun, Kepulauan Riau mulai terungkap. Polri telah menangkap salah seorang tersangkanya.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Ferdy Sambo mengatakan Satgas TPPO Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya bersama Polda Kepri berhasil menangkap satu tersangka. Dia diduga terlibat dalam kasus dua anak buah kapal (ABK) yang terjun ke laut.

“Telah ditangkap tersangka TPPO yakni bernama Syafruddin dalam kasus dua ABK terjun ke laut,” katanya, di Jakarta, Kamis (11/6).

Dijelaskan Ferdy, Syafruddin (44) ditangkap di rumahnya di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Dari tangan tersangka, kami menyita beberapa barang bukti yakni KTP, buku rekening tersangka dan ponsel milik tersangka,” katanya.

Dijelaskannya, pengungkapan kasus ini berawal dari ditemukannya dua ABK asal Indonesia yaitu Reynalfi (22) dan Andri Juniansyah (30) yang nekat kabur dari kapal China Fu Li Qing Yuan Yu 901. Keduanya lompat ke laut di wilayah perairan Pulau Karimun, Kepri.

“Berbekal penelusuran ponsel yang digunakan korban, Polda Kepri pada Rabu (10/6) terbang ke Jakarta mencari keberadaan tersangka,” katanya.

Selanjutnya Satgas TPPO Bareskrim Polri bersama Subdirektorat III Jatanras Polda Metro Jaya membantu memetakan lokasi keberadaan tersangka.

Kemudian pada Kamis (11/6) dini hari, tersangka Syafruddin ditangkap di rumahnya di Cileungsi. setelah itu langsung dibawa ke Bareskrim Polri untuk diperiksa.

Dari pemeriksaan sementara, diketahui modusnya pelaku merekrut sejumlah WNI.

“Para korban diiming-imingi akan dipekerjakan sebagai buruh pabrik di Korea Selatan dan dan mendapat upah layak,” katanya.

Namun pada kenyataannya, para korban dieksploitasi untuk melakukan pekerjaan kasar di kapal penangkap ikan berbendera Cina.

“Pelaku melakukan dugaan TPPO dengan cara melakukan perekrutan dan pengiriman WNI dengan iming-iming gaji yang besar serta dieksploitasi untuk melakukan pekerjaan kasar di kapal penangkap berbendera Cina,” tutur jenderal bintang satu ini.

Para ABK ini juga tidak menerima gaji selama bekerja di kapal.

“Tidak sesuai kesepakatan untuk bekerja buruh pabrik di Korea Selatan,” katanya.

Dari penangkapan tersebut, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono mengaku kepolisian telah mengantongi beberapa fakta baru.

“Beberapa informasi yang penyidik sudah dapatkan seperti mereka (dua ABK) sebutkan nama kapal, nama-nama kru, dan orang yang merekrut,” katanya.

Dikatakannya, informasi yang diberikan dua korban yaitu Reynalfi dan Andri masih dangkal. Sebab keduanya masih syok.

“Kedua korban ABK WNI asal NTB (Nusa Tenggara Barat) dan Pematang Siantar ini sedang menjalani konseling,” ujar Awi.

Awi mengatakan dalam menyelidiki kasus ini Polri bekerja sama dengan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Dugaan TPPO ABK itu dianggap bukan kasus baru.

Dia mengimbau masyarakat selalu waspada terhadap tawaran pekerjaan dengan iming-iming menjadi ABK di kapal luar negeri. Masyarakat harus taat terhadap prosedur sebagai PMI.

“Ikuti prosedur resmi dan persyaratannya karena itu akan menjadi salah satu jaminan perlindungan dari tindak pidana perdagangan orang,” tuturnya.

Untuk diketahui Reynalfi dan Andri Juniansyah, ABK asal Indonesia nekat kabur dengan terjun ke laut dari kapal. Keduanya tak tahan dengan pola kerja di kapal tersebut.

Kedua WNI itu meloloskan diri dengan terjun ke laut di sekitar perairan perbatasan internasional yang masuk wilayah Provinsi Kepri pada Jumat (5/6) malam sekitar pukul 20.00 WIB.

Bukan kali ini saja kasus semacam Ini terjadi. Satgas tindak pidana perdagangan orang (TPPO) Bareskrim juga mengusut kasus serupa.

Tiga tersangka dalam kasus eksploitasi ABK yang bekerja di kapal Long Xing 629 dibekuk.

Ketiga tersangka tersebut adalah W dari PT APJ di Bekasi, inisial F dari PT LPB di Tegal dan J dari PT SMG di Pemalang.

Pelaku TPPO diancam Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-undang Nomor 21/2007 tentang Pemberantasan TPPO dan atau Pasal 81 dan Pasal 86 huruf b UU Nomor 18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dan atau Pasal 102 ayat 1 huruf B UU Nomor 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Ancaman hukuman maksimalnya 15 tahun penjara.(gw/fin)