Radarnews.co, KAMPAR – Hujan yang mengguyur Kabupaten Kampar, Riau, selama tiga hari berturut-turut ternyata tidak berdampak signifikan pada peningkatan volume air Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang. Bahkan, elevasi waduk justru tercatat mengalami penurunan tipis, menurut data terbaru yang dirilis manajemen pengelola.
Hujan tercatat turun pertama kali pada Sabtu (26/7/2025), kemudian berlanjut pada Minggu malam (27/7) dan kembali turun pada Senin (28/7) dini hari hingga pagi. Meskipun intensitas hujan terpantau cukup merata di beberapa kawasan, volume air yang masuk ke Waduk PLTA Koto Panjang tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan.
Manajer Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Air (ULPLTA) Koto Panjang, Dhani Irwansyah, menjelaskan bahwa elevasi waduk pada Senin (28/7) pukul 09.00 WIB tercatat berada di angka 77,94 meter di atas permukaan laut (mdpl). Angka ini lebih rendah 4 sentimeter dibanding hari sebelumnya.
“Per hari ini, elevasi berada di 77,94 mdpl dengan inflow dan outflow masing-masing 219,61 meter kubik per detik,” ujar Dhani kepada awak media, Senin pagi.
Sebagai perbandingan, pada Minggu (27/7) pukul 09.00 WIB, elevasi waduk masih berada di 77,98 mdpl. Debit air masuk (inflow) dan keluar (outflow) saat itu masing-masing sebesar 114,26 meter kubik per detik.
“Ada penurunan empat sentimeter dalam kurun 24 jam,” kata Dhani.
Menurutnya, penurunan ini terjadi meskipun hujan sempat mengguyur kawasan sekitar pada Minggu malam. Ia menjelaskan bahwa hujan tersebut tidak cukup luas untuk memberikan pasokan air tambahan secara signifikan ke Sungai Kampar, sumber utama air bagi waduk tersebut.
“Hujan hanya terjadi di sekitar waduk pada Minggu. Sementara pada Senin pagi, cuaca hanya mendung. Hujan tidak turun di daerah hulu sungai yang menyuplai air ke waduk,” ujarnya.
Dampak Hidrologi Lokal
Secara hidrologis, Sungai Kampar yang menjadi sumber utama Waduk Koto Panjang sangat bergantung pada curah hujan di daerah tangkapan air (catchment area) yang mencakup wilayah hulu di Provinsi Sumatera Barat. Jika hujan hanya terjadi di sekitar waduk tanpa menjangkau kawasan hulu, maka volume air yang masuk ke waduk cenderung tidak mengalami peningkatan signifikan.
“Distribusi hujan sangat menentukan. Jika hanya hujan lokal, efeknya kecil terhadap elevasi,” jelas Dhani.
Ia menambahkan, fluktuasi elevasi ini masih dalam batas normal operasional waduk dan tidak berdampak terhadap sistem pembangkitan listrik. “Secara teknis, kondisi saat ini masih aman untuk kebutuhan operasional PLTA,” pungkasnya.
Waduk Strategis untuk Supply Listrik Riau
Waduk PLTA Koto Panjang merupakan salah satu infrastruktur vital di wilayah Riau. Memanfaatkan aliran Sungai Kampar, waduk ini menjadi tumpuan utama dalam penyediaan energi listrik bagi sebagian besar wilayah di Provinsi Riau dan sekitarnya.
Selain sebagai pembangkit listrik, waduk ini juga memiliki fungsi pengendalian banjir dan penyediaan air baku bagi masyarakat.
Namun, fluktuasi elevasi menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan energi berbasis air, terutama di tengah perubahan pola cuaca dan ketidakpastian iklim. Karena itu, pemantauan intensif terhadap elevasi waduk dan debit air menjadi bagian penting dari pengelolaan harian ULPLTA.
Antisipasi Cuaca Ekstrem
Pihak ULPLTA terus memantau perkembangan cuaca serta laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna menyesuaikan kebijakan pengelolaan debit air. Dalam kondisi tertentu, operator waduk harus membuka pintu pelimpah (spillway) untuk mengatur volume air agar tidak melebihi ambang batas keamanan.
Namun, dalam kasus saat ini, meski hujan sudah turun selama tiga hari, belum ada kebutuhan untuk melakukan pengaturan tambahan. Kondisi debit masuk dan keluar masih seimbang dan tidak menimbulkan risiko teknis.
Dengan kondisi elevasi yang masih dalam batas normal, PLTA Koto Panjang dipastikan tetap beroperasi stabil untuk menopang kebutuhan energi di Riau dan sekitarnya. Namun, kewaspadaan tetap dijaga mengingat dinamika cuaca yang tidak menentu beberapa waktu terakhir.*