Grafik Pasien Sembuh Naik Pesat

900 Orang dari 90 Negara Mengikuti Uji Coba Massal

JAKARTA – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona (Covid-19) mencatat penambahan pasien sembuh Covid-19 naik pesat dari hari-hari sebelumnya. Ada 102 orang ,sehingga total kasus sembuh menjadi 548. Angka ini melampaui jumlah pasien meninggal dengan total 496 setelah ada penambahan 27 orang sebagaimana rekapitulasi data yang masuk hari Kamis (16/4) pukul 12.00 WIB.

Ini menjadi tanda bahwa Covid-19 bisa disembuhkan dan dicegah dengan memutus rantai penularan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 menerapkan pola hidup sehat, menjaga jarak dan physical distance. ”Kita patut bersyukur pada hari ini akumulasi pasien sembuh di DKI sebanyak 202 pasien, Jawa Timur 86 pasien, Sulawesi Selatan 42 pasien, Bali 32 pasien, Jawa Barat 28 dan di provinsi lainnya sehingga jumlah totalnya adalah 548 pasien,” ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto melalui keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Kamis (16/4).

Dalam kesempatan yang sama, Yuri juga meminta agar masyarakat dapat menjalin kekompakan dalam rangka melakukan pencegahan dan penanganan Covid-19 secara bersama-sama dengan menjalankan protokol kesehatan dan anjuran pemerintah. ”Pastikan bahwa kita tidak tertular, bahwa kita tidak menular. Hargai dan bantu mereka yang sedang melaksanakan isolasi mandiri. Jangan pernah melakukan diskriminasi kepada pasien yang sudah sembuh Tidak boleh kita menolak jenazah pasien. Tunjukkan bahwa ini adalah nilai kemanusiaan kita. Kekompakan multak dibutuhkan,” tegas Yuri.

Dari total kasus sembuh dan meninggal tersebut, ada pula penambahan untuk kasus positif sebanyak 380 orang hingga total menjadi 5.516. Data tersebut diambil dari hasil uji spesimen sebanyak 39.706 yang dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di 32 laboratorium. Sebanyak 34.975 kasus spesimen yang diperiksa didapatkan data 5.516 positif dan 29.459 negatif.

Kemudian untuk jumlah orang dalam pemantauan (ODP) terdapat penambahan sebanyak 3.897 hingga total menjadi 169.446 orang dan pasien dalam pengawasan (PDP) bertambah 708 dengan total menjadi 11.873 orang. Data tersebut diambil dari 34 provinsi dan 202 kabupaten di Tanah Air. Selanjutnya Gugus Tugas merincikan data positif Covid-19 di Indonesia yaitu di Provinsi Aceh lima kasus, Bali 113 kasus, Banten 297 kasus, Bangka Belitung enam kasus, Bengkulu empat kasus, Yogyakarta 62 kasus, DKI Jakarta 2.670 kasus.

Selanjutnya di Jambi tujuh kasus, Jawa Barat 570 kasus, Jawa Tengah 300 kasus, Jawa Timur 514 kasus, Kalimantan Barat 21 kasus, Kalimantan Timur 44 kasus, Kalimantan Tengah 34 kasus, Kalimantan Selatan 59 kasus, dan Kalimantan Utara 28 kasus. Kemudian di Kepulauan Riau 38 kasus, NTB 45 kasus, Sumatera Selatan 37 kasus, Sumatera Barat 55 kasus, Sulawesi Utara 18 kasus, Sumatera Utara 79 kasus, dan Sulawesi Tenggara 26 kasus.

Adapun di Sulawesi Selatan 271 kasus, Sulawesi Tengah 22 kasus, Lampung dan Riau 25 kasus, Maluku Utara empat kasus, Maluku 14 kasus, Papua Barat lima kasus, Papua 80 kasus, Sulawesi Barat tujuh kasus, Nusa Tenggara Timur satu kasus dan Gorontalo empat kasus.

Dalam kesempatan itu, Yuri juga meminta masyarakat tidak mempercayai hoaks terkait dengan Covid-19, di mana sejauh ini pemerintah sudah mendeteksi 1.125 kabar bohong yang beredar tersebut. ”Tantangan risiko kesehatan dan kehidupan ekonomi sudah berat, mari kita pastikan tidak perlu kita tambah lagi dengan beban psikologis dari berita-berita atau informasi yang tidak benar,” terangnya.

Mempercayai berita hoaks atau tidak benar terkait dengan Covid-19 dan isu yang menyertainya akan menambah beban psikologis dan membuat semakin susah masyarakat yang harus berdiam di rumah untuk menekan angka penyebaran Covid-19. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sampai saat ini sudah mendeteksi lebih dari 1.125 hoaks terkait dengan Covid-19 di berbagai media yang ada di internet. ”Semua ini akan ditangani secara tegas oleh aparat kepolisian. Oleh karena itu, tetap akses dan ikuti informasi yang benar dan resmi dari pemerintah,” katanya.

Masyarakat dapat mengakses informasi yang terverifikasi lewat daring dengan mengakses portal resmi Gugus Tugas yaitu Covid19.go.id atau menghubungi nomor hotline 119. Selain itu, terdapat chatbot Covid-19 di aplikasi WhatsApp atau dapat melalui nomor HaloKemkes di nomor 1500567.

Masyarakat juga dapat mencari informasi di aplikasi medis atau telemedicine yang sudah bekerja sama dengan pemerintah, seperti HaloDoc dan Alodokter. Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 berdasarkan pencatatan sejak Rabu (15/4), pukul 12.00 WIB hingga Kamis, pukul 12.00 WIB, pasien sembuh Covid-19 bertambah 102 orang menjadi 548 orang, sedangkan yang meninggal bertambah 27 kasus sehingga total meninggal menjadi 496 orang. Sementara itu, tercatat penambahan kasus positif 380 kasus sehingga total 5.516 kasus positif di Indonesia.

Sementara itu, ada 900 orang dari 90 negara mengikuti uji coba massal (solidarity trial), program yang diselenggarakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), guna mengetahui keampuhan obat-obatan yang telah digunakan untuk pasien COVID-19, kata Direktur Jenderal WHO, dr Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss. ”Uji coba massa itu dilakukan demi mengevaluasi keamanan dan keampuhan dari satu obat tertentu dan kombinasi beberapa obat,” kata Ghebreyesus dalam sesi pengarahan harian yang disiarkan laman resmi WHO, sebagaimana dipantau di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, uji coba massal atau solidarity trial itu juga bertujuan untuk mempercepat penelitian dan pengembangan pengobatan serta uji coba vaksin Covid-19, penyakit menular yang disebabkan jenis baru virus corona (SARS-CoV-2). Dalam laman resminya, WHO menyebutkan sejumlah obat-obatan yang jadi objek uji coba, di antaranya Remdesivir, Lopinavir/Ritonavir, Lopinavir/Ritonavir dengan Interferon beta-1a, dan Chloroquine atau Hydroxychloroquine (obat anti-malaria). WHO menjelaskan Remdesivir merupakan obat yang sempat diuji coba untuk merawat penderita Ebola.

”Obat itu memperlihatkan hasil menjanjikan saat diuji coba ke hewan yang menderita Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS-CoV) dan Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS), yang keduanya disebabkan virus corona. Hasil itu menunjukkan kemungkinan obat dapat bekerja untuk pasien Covid-19,” demikian tulis WHO.

Sementara itu, Lopinavir/Ritonavir merupakan obat yang terdaftar untuk pasien HIV, tetapi belum pernah ada bukti klinis yang menunjukkan pil itu dapat menyembuhkan MERS, SARS, dan Covid-19, atau menghentikan penularan. Akan tetapi, obat itu tetap jadi objek penelitian demi memastikan efektivitas penggunaan Lopinavir/Ritonavir terhadap pasien Covid-19. ”Sejauh ini hasil penelitian di labratorium menunjukkan ada indikasi kombinasi obat ini (dengan yang lain) mungkin efektif menyembuhkan penyakit Covid-19, tetapi sejauh ini belum ada kesimpulan yang final,” terang WHO.

Dalam keterangannya, para pakar di WHO turut mengombinasikan penggunaan Lopinavir/Ritonavir dengan Interferon beta-1a, obat yang digunakan banyak penderita sklerosis, gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Chloroquine atau Hydroxychloroquine juga jadi obat yang diuji coba WHO pada solidarity trial. Obat itu biasa digunakan untuk pasien malaria dan orang dengan keluhan sendi, tendon, ligamen, dan jaringan halus lainnya. ”Di Cina dan Prancis, sejumlah penelitian menunjukkan indikasi adanya manfaat yang mungkin dapat diperoleh dari chloroquine fosfat terhadap penyakit pneumonia yang disebabkan oleh Covid-19, tetapi perlu lebih banyak uji coba secara acak untuk membuktikan keampuhan obat,” jelas WHO. (fin/ful)