Gawat! RS Makin Penuh

covid-19
Ilustrasi

JAKARTA – Hingga Kamis (3/9) kemarin, jumlah terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia mencapai 184.268 orang. Ini setelah ada penambahan sebanyak 3.622 kasus. Akibatnya, tingkat keterpakaian ruang isolasi melonjak pada Agustus dan September 2020.

“Secara nasional berdasarkan data yang didapat dari Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan keterpakaian tempat tidur isolasi di bulan Agustus dan September dibanding Juli 2020,” kata Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito di Kantor Kepresidenan Jakarta, Kamis (3/9).

Menurutnya, terdapat 132.055 orang dinyatakan sembuh. Sedangkan pasien yang meninggal dunia 7.750 orang. Dari 34 provinsi di Indonesia, terbanyak positif adalah DKI Jakarta (43.400), Jawa Timur (34.655), Jawa Tengah (14.670), Sulawesi Selatan (12.244), Jawa Barat (11.719).

Baca Juga : Dua Opsi Pengembangan Vaksin Covid-19

Wiku menyatakan, persentase tingkat keterpakaian tempat tidur isolasi paling tinggi berada di Bali, DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Jawa Tengah. Sedangkan persentase keterpakaian ICU dengan pasien yang dirawat per provinsi paling banyak di DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat (NTB), Papua dan Kalimantan Selatan.

Secara total pada Agustus 2020, pasien rawat inap COVID-19 mencapai 18.727 dari kapasitas tempat tidur isolasi RS rujukan sebanyak 32.438. Sementara RS non-rujukan sebanyak 10.564. Sedangkan per 2 September 2020, pasien rawat inap COVID-19 mencapai 19.467 dari kapasitas tempat tidur isolasi RS rujukan 32.456 dan RS non-rujukan 10.055.

Baca Juga : Ribuan Ton Limbah Medis Covid-19 Cemari Sungai

“Satgas telah berkoordinasi dengan Kemenkes dan Perhimpunan Rumah Sakit seluruh Indonesia (Persi) agar bersama-sama meningkatkan kemampuan rumah sakit. Khususnya tempat tidur isolasi dan ICU. Yakni dengan cara melakukan redistribusi dari pasiennya agar seluruh rumah sakit rujukan yang ada di wilayah tersebut tidak melebihi 60 persen,” terang Wiku.

Menurutnya, untuk kasus ringan dan sedang dapat dipindahkan ke karantina terpusat. Seperti di Wisma Atlet untuk di DKI Jakarta. Selanjutnya, kata Wiku, beban kerja dari tenaga kesehatan perlu dirasionalisasi. Sehingga tidak terjadi kelelahan. Baik dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya.(rh/fin)