Radarnews.co, KUANTAN SINGINGI — Festival Pacu Jalur 2025 yang digelar di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, bakal menjadi panggung besar tidak hanya bagi olahraga tradisional Kuansing, tetapi juga bagi warisan kuliner dan budaya lokal yang kaya. Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, memastikan bahwa festival tahun ini akan menghadirkan pengalaman lebih lengkap bagi para wisatawan, termasuk sajian khas daerah seperti Konji Barayak.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing, Azhar, menyampaikan bahwa kuliner lokal akan menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian acara yang berlangsung pada 20–24 Agustus 2025. Sajian Konji Barayak, makanan tradisional berbahan dasar beras dan santan khas Kuansing, akan disuguhkan secara khusus di hari pertama pembukaan festival.
“Kami ingin pengunjung mendapatkan pengalaman menyeluruh. Tidak hanya menyaksikan keindahan dan ketegangan lomba Pacu Jalur, tetapi juga mencicipi rasa otentik khas Kuansing,” kata Azhar dalam keterangannya pada Senin (28/7/2025).
Lebih dari Sekadar Lomba Jalur
Festival Pacu Jalur memang dikenal sebagai ajang olahraga tradisional yang sarat makna budaya. Namun tahun ini, Pemkab Kuansing ingin mengembangkan cakupan acara menjadi lebih luas dan representatif terhadap kekayaan budaya masyarakat setempat. Dalam konteks ini, kuliner, seni pertunjukan, dan ritual adat akan disandingkan sebagai bagian dari festival.
Salah satu agenda budaya yang akan ikut ditampilkan adalah tradisi “Maelo Jalur”, sebuah kegiatan gotong royong masyarakat untuk menarik batang kayu besar dari hutan yang akan diukir menjadi perahu Jalur—ikon utama dalam lomba pacu.
“Maelo Jalur adalah bagian penting dari filosofi kebersamaan masyarakat Kuansing. Ini bukan hanya aktivitas fisik, tetapi bentuk solidaritas sosial dan penghormatan terhadap alam,” ungkap Azhar.
Tak hanya itu, seni pertunjukan Randai Kuansing juga akan turut memeriahkan hari pembukaan festival. Randai merupakan kesenian tradisional perpaduan antara drama, tari, dan silat, yang telah lama menjadi warisan budaya tak benda di wilayah Riau.
Panggung Internasional di Tepian Narosa
Festival Pacu Jalur 2025 juga akan menjadi ajang berskala internasional. Sejumlah perwakilan dari kedutaan besar berbagai negara telah menyatakan kehadirannya, termasuk dari Bosnia dan Herzegovina, Angola, Mozambik, Fiji, Bangladesh, Rwanda, serta Konsulat Malaysia di Pekanbaru. Kehadiran tamu mancanegara ini dinilai menjadi peluang strategis dalam mempromosikan potensi wisata Kuansing ke panggung global.
“Kami menyambut baik kunjungan para tamu internasional. Festival ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga platform diplomasi budaya. Harapannya, mereka bisa menjadi duta tidak langsung yang membawa cerita tentang Kuansing ke negara masing-masing,” terang Azhar.
Selain itu, festival ini juga akan dihadiri oleh Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, sejumlah menteri kabinet, serta perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia. Provinsi Sulawesi Selatan melalui delegasi Makassar, serta beberapa wilayah dari Sumatera Barat akan turut hadir dan menampilkan kesenian khas masing-masing.
Gastronomi sebagai Daya Tarik Baru
Dengan hadirnya Konji Barayak sebagai representasi kuliner lokal, Pemkab Kuansing berharap pengunjung memiliki kesan mendalam terhadap identitas gastronomi daerah. Langkah ini juga dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan pelaku UMKM lokal, terutama di sektor makanan tradisional.
“Kuliner adalah bagian dari identitas budaya. Kami ingin pengunjung pulang dengan cerita, bukan hanya tentang lomba perahu, tapi juga tentang rasa yang membekas di lidah dan hati mereka,” ujar Azhar.
Optimisme Menuju Festival Kelas Dunia
Dengan konsep yang lebih menyeluruh—menggabungkan olahraga, budaya, dan kuliner—Festival Pacu Jalur 2025 digadang-gadang menjadi salah satu acara pariwisata paling berwarna di Pulau Sumatera tahun ini. Pemkab Kuansing optimis festival ini dapat memberikan dampak positif terhadap citra pariwisata Riau dan membuka lebih banyak peluang kerjasama internasional di masa mendatang.
“Pacu Jalur bukan sekadar lomba mendayung. Ia adalah simbol semangat kolektif, warisan budaya, dan kini juga menjadi wajah baru pariwisata gastronomi Kuansing,” tutup Azhar.