Radarnews.co, PELALAWAN – Tujuh orang guru honorer komite di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 020 Bukit Sako, Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau, datang ke DPRD setempat pada Senin (28/7/2025). Mereka menyuarakan keputusasaan akibat honor bulanan yang jauh dari layak — hanya Rp 200 ribu per orang.
Kondisi ini memaksa para guru tersebut mempertimbangkan untuk mengundurkan diri. Namun mereka juga dihantui dilema, siapa yang akan mengajar 130 siswa jika mereka pergi?
Gaji Minim, Biaya Mengajar Membengkak
Honor Rp 200 ribu per bulan yang mereka terima tak cukup untuk sekadar menutupi biaya transportasi menuju sekolah. Randa Barus, salah satu guru, menyebutkan bahwa hanya untuk membeli bahan bakar motor, ia membutuhkan sekitar Rp 450 ribu per bulan.
“Kami bukan lagi bicara soal hidup nyaman, tapi ini sudah tidak cukup untuk sekadar pergi mengajar. Honor kami jauh lebih kecil dari pengeluaran harian,” ujar Berliana Barus, guru kelas 6 SDN 020 Bukit Sako.
Ironisnya, sebelumnya saat SDN 020 masih berstatus “kelas jauh” dari SDN 014 Segati dan belum menjadi sekolah negeri penuh, para guru honorer itu justru menerima gaji yang lebih besar — sekitar Rp 1 juta per bulan.
Namun sejak resmi dinegerikan pada 2023, gaji justru merosot drastis. Penyebabnya adalah ketentuan penggunaan Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang hanya memperbolehkan 20 persen dialokasikan untuk honorarium guru komite. Dengan jumlah murid hanya 130 orang, maka dana BOS yang diterima sekolah terbatas, dan hanya cukup memberikan Rp 200 ribu untuk masing-masing dari 7 guru.
Dilema Guru dan Ancaman Lumpuhnya Pendidikan
Ketujuh guru tersebut berstatus sebagai wali kelas, dengan hanya satu orang guru PNS yang merangkap sebagai kepala sekolah. Jika ketujuh guru ini mundur, proses belajar-mengajar dipastikan lumpuh total.
“Kami tidak tega meninggalkan anak-anak, tapi kondisi ini sudah tidak manusiawi lagi,” ujar Desi Elfrida Pasaribu, guru kelas 4.
Para guru diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Pelalawan, Baharudin, didampingi sejumlah anggota dewan lainnya seperti Efrizon, Saniman, dan Rustam Sinaga. Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pelalawan, Leo Nardo, juga hadir dalam pertemuan itu.
Bantuan Pribadi dan Rencana CSR Digagas
Menyadari urgensi persoalan, Anggota DPRD dari Fraksi PAN, Efrizon, langsung mengambil langkah darurat dengan menggelontorkan dana pribadi sebesar Rp 7 juta untuk menutupi honor bulan Juli seluruh guru tersebut.
“Saya bantu dari kantong sendiri. Masing-masing guru saya berikan Rp 1 juta supaya mereka tetap semangat dan tidak berhenti mengajar,” ujar Efrizon, yang mengaku sangat prihatin atas kondisi para guru.
Ia menambahkan, bukan hanya para guru yang jadi korban, namun juga ratusan siswa yang akan terlantar jika para pendidik ini benar-benar angkat kaki.
“Kalau mereka berhenti, siapa yang mengajar? Ini tanggung jawab kita semua, terutama pemerintah daerah,” tegasnya.
Butuh Solusi Jangka Panjang
Untuk jangka panjang, DPRD berencana mendorong perusahaan-perusahaan di sekitar Desa Segati agar menyalurkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) ke SDN 020.
“Kami akan koordinasikan CSR dari perusahaan di sekitar. Kalau Pemda tidak bisa bantu dalam waktu dekat, kita harus cari jalur lain agar sekolah ini tidak kolaps,” kata Baharudin, Wakil Ketua DPRD Pelalawan.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan meninjau langsung kondisi sekolah sekaligus menjajaki peluang kolaborasi dengan perusahaan swasta di wilayah tersebut.
Pemkab Dinilai Lamban
Para guru honorer tersebut sebelumnya sudah menghadap Bupati Pelalawan, H. Zukri, namun hingga kini belum ada keputusan konkret terkait masa depan mereka. Plt Kadisdikbud Pelalawan, Leo Nardo, mengakui bahwa nasib para guru ini sudah dibahas bersama BKPSDM.
“Mereka ini guru-guru luar biasa, yang sudah mengabdi sejak sebelum sekolah ini dinegerikan. Kami sedang mencari solusi terbaik ke depan,” kata Leo Nardo.
Ia juga membenarkan bahwa keterbatasan jumlah siswa dan aturan penggunaan dana BOS menjadi penyebab rendahnya honor.
Ketujuh guru yang menyuarakan keluh kesah mereka ke DPRD adalah:
- Berliana Barus – Guru Kelas 6
- Rusemi – Guru Kelas 5
- Desi Elfrida Pasaribu – Guru Kelas 4
- Kusumawati – Guru Kelas 3
- Masniar – Guru Kelas 2
- Shindy Ayu Komariah – Guru Kelas 1
- David – Operator Sekolah
Meski gaji minim dan ketidakpastian membayangi, ketujuh pendidik ini tetap menunjukkan loyalitas luar biasa terhadap dunia pendidikan di pedalaman Riau.
Namun harapan kini bertumpu pada keseriusan pemerintah dan dukungan masyarakat untuk mengangkat martabat para guru, yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan di pelosok negeri.*