Alat Tes Corona UGM Miliki Akurasi Tinggi

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro. (Instagram)

JAKARTA – Alat tes virus corona (covid-19) milik Universitas Gadjah Mada (UGM), GeNose dinilai memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi ketimbang tes swab Polymerase Chain Reaction (PCR).

Hal itu dinyatakan langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro, berdasarkan kesimpulan yang didapatnya dari hasil uji klinis tahap pertama.

“Pada uji klinis tahap pertama di Rumah Sakit di Yogyakarta, tingkat akurasinya dibandingkan PCR test 97 persen,” kata Bambang di Jakarta, Selasa (13/10).

Menurut Bambang, GeNose UGM ini bisa menjadi solusi mengurangi ketergantungan terhadap PCR test. Terlebih lagi, GeNose UGM juga dinilai bisa jadi cara screening yang lebih baik.

“GeNose ini intinya mendeteksi keberadaan virus covid-19 dengan menggunakan embusan napas,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, bahwa tes covid-19 dengan pendekatan GeNose bisa menghasilkan upaya secreening dan deteksi yang lebih cepat. Sebab, hasilnya bisa keluar sekitar dua sampai tiga menit setelah embusan napas disimpan dalam alat GeNose.

“Terpenting alat ini jauh lebih murah. Dan satu lagi juga lebih akurat,” tegasnya.

Sementara itu, Peneliti Genose, Dian Kesumapramudya Nurputra mengatakan, saat ini uji diagnosis Genose masih terus dilakukan di sembilan rumah sakit. Namun, pihaknya masih kesulitan terkait penyediaan plastik dalam uji diagnosis yang dilakukan saat ini.

“Kendalanya pada plastik pembungkus embusan nafas pasien yang masih menggunakan jenis plastik yang dijual di pasaran dengan kisaran harga Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu,” kata Dian.

“Tapi kami sudah ada kerja sama dengan mitra bisnis yang bisa mendesain dan membuat plastik yang sesuai kriteria kami. Harganya hanya Rp 10 ribu per plastik dan limbah plastiknya bisa didaur ulang,” imbuhnya.

Universitas Gadjah Mada (UGM) sendiri berharap teknologi alat deteksi Covid-19 melalui embusan nafas, Genose, sudah mulai diproduksi secara massal pada November 2020.

“Usai uji diagnosis selesai dilakukan. Jika hasilnya akurat, maka Kemenkes akan mengeluarkan izin edar agar dapat diproduksi massal,” pungkasnya.(der/fin)